Pages

Hasil MAA2012: Kiamat Asteroid Bisa Dihindari Dengan Peluru Cat

Ancaman asteroid raksasa yang akan menabrak bumi dan menyebabkan kiamat jadi perhatian kalangan peminat astronomi. Baru-baru ini digelar lomba ilmiah yang disponsori Space Generation Advisory Council Perserikatan Bangsa-Bangsa, yakni "Move an Asteroid Competition 2012" (MAA2012).

Tantangan yang diberikan dalam kompetisi yang telah digelar keempat kalinya ini adalah mengidentifikasi solusi baru yang dapat menghalau obyek yang mendekati bumi, seperti asteroid, dengan aman.
 
incursionmag.com

Para ilmuwan telah mengusulkan beragam metode guna mencegah asteroid menabrak bumi. Sejumlah proposal mengusulkan misi bunuh diri dengan menabrakkan roket atau wahana antariksa ke asteroid tersebut. Saat ini, badan antariksa Eropa (ESA) juga tengah menggodok kemungkinan digelarnya misi semacam itu.

Metode lain yang diusulkan adalah meledakkan sebuah bom nuklir di dekat asteroid. Ada pula yang mengusulkan pembuatan wahana antariksa khusus yang berfungsi sebagai traktor gravitasi dan menggunakan medan gravitasi wahana tersebut guna menarik asteroid keluar dari lintasannya.

Seorang mahasiswa dari Department of Aeronautics and Astronautics di MIT, Sung Wook Paek mengirim proposal paling unik. Menurutnya peluru cat yang biasa digunakan untuk simulasi perang ternyata dapat digunakan untuk menyelamatkan bumi dari ancaman asteroid. Cukup dua lemparan jitu ke arah benda antariksa itu, asteroid yang semula mengarah ke bumi dapat dibelokkan.

Paek mengatakan bahwa asteroid yang telah dilumuri cat putih akan merefleksikan cahaya matahari dan perlahan foton yang memantul dari permukaan batu itu akan menciptakan daya yang cukup guna mendorong asteroid keluar dari jalur lintasannya sedikit demi sedikit.

Dalam proposalnya, Paek menggunakan asteroid Apophis sebagai uji kasus teoretis. Berdasarkan observasi astronomis, batu berbobot 27 juta ton itu kemungkinan akan mendekati bumi pada 2029, dan kembali lagi pada 2036.

Menurut Paek, sedikitnya butuh lima ton cat untuk menutupi seluruh permukaan asteroid raksasa yang berdiameter 450 meter tersebut. Dia menggunakan periode rotasi asteroid guna mengetahui kapan saat yang tepat melontarkan cat sehingga peluru cat pertama akan menutup bagian depan asteroid dan tembakan kedua menyelimuti bagian belakang batu antariksa itu.

Begitu mengenai permukaan asteroid, peluru akan meledak dan pecah. Cat di dalamnya akan muncrat dan melapisi batu angkasa luar itu dengan lapisan cat setebal lima mikrometer.

Berdasarkan perhitungannya, Paek memperkirakan, setidaknya butuh waktu 20 tahun agar efek kumulatif radiasi surya berhasil menarik asteroid keluar dari lintasan yang mengarah ke bumi. Dia mengatakan bahwa peluncuran peluru dengan roket biasa mungkin bukan pilihan yang ideal karena proses keberangkatan yang penuh guncangan dapat memecahkan muatannya.

Sebaliknya, Paek membayangkan peluru catnya itu dibuat langsung di antariksa, seperti di atas dek Stasiun Antariksa Internasional (ISS). Setelah peluru dibuat, sebuah wahana lain dapat mengangkat beberapa butir peluru dan menjatuhkannya ke atas asteroid.

Paek menambahkan bahwa substansi yang dapat digunakan sebagai peluru bukan cuma cat. Kapsul peluru, misalnya, dapat diisi dengan aerosol.

“Ketika ditembakkan ke asteroid, aerosol dapat mengirimkan gaya tarik udara terhadap asteroid tersebut sehingga gerakannya melambat,” kata Paek. “Anda hanya perlu mengecat asteroid itu sehingga Anda bisa melacaknya dari teleskop di bumi dengan mudah. Jadi ada manfaat lain dari metode ini.”

Strategi peluru cat Paek pada dasarnya dibangun dari sebuah solusi yang diajukan juara kompetisi tahun lalu, yang mengusulkan penggunaan awan peluru padat guna menggeser arah lintasan asteroid. Paek muncul dengan proposal yang hampir sama. Dia menambahkan cat ke dalam peluru guna memanfaatkan tekanan radiasi surya, yaitu gaya yang diberikan oleh foton matahari kepada sebuah obyek.

Peneliti telah mengobservasi bahwa tekanan dari sinar matahari dapat mengubah orbit satelit geosynchronous, yaitu satelit dengan periode orbital yang sama dengan periode rotasi bumi. Peneliti lain mengusulkan agar wahana antariksa dilengkapi dengan layar yang dapat menangkap radiasi surya, mirip seperti layar perahu menangkap angin.




 


Sumber:
tempo