Pages

ada apa dengan berita Abu rizal bakrie


Awan mendung mulai menghampiri taipan Aburizal Bakrie . Bisnis milik konglomerat yang juga ketua umum partai Golkar ini semenjak tahun lalu anjlok kinerjanya.

Bakrie mulai bergerak cepat untuk menyelamatkan bisnisnya dengan menjual satu per satu asetnya. Langkah ini diambil untuk menutupi beban utang yang mulai membengkak.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya sederhana. Kondisi perekonomian yang tengah melesu membuat kinerja bisnis, khususnya di bidang pengolahan tambang, ambruk. Padahal, keuntungan perusahaan sebagian untuk menutupi beban utang.

Kondisi semakin parah karena beban utang perusahaan banyak terdapat dalam mata uang dolar. Saat nilai tukar rupiah anjlok seperti yang sekarang ini terjadi membuat beban utang semakin membengkak.

PT Bakrie&Brothers Tbk (BNBR) beberapa waktu lalu merilis bahwa langkah penjualan ini terbukti efektif menekan jumlah utang. Utang perusahaan yang mencapai Rp 10,71 triliun saat ini telah menurun Rp 4,27 triliun.

Direktur Keuangan BNBR, Eddy Soeparno, mengatakan penjualan pelbagai aset dan saham pada tahun lalu membuat utang yang tersisa saat ini ialah Rp 6,44 triliun.

Dia menambahkan, bersamaan dengan itu, beban bunga juga ditekan dari sebelumnya Rp 2 triliun pada 2011 menjadi Rp 1,19 triliun di 2012.

"Penurunan beban utang dan bunga pinjaman ini meringankan beban keuangan perseroan sepanjang 2012," ujar Eddy.

Sejauh ini, sejumlah saham ataupun aset yang telah dijual oleh Bakrie antara lain Lido Nirwana Parahyangan, Bakrie Toll Road, Bakrie Telecom, Bakrie Building Industries, PT Energi Mega Persada dan Bakrie Pipe Industries.

Terbaru, PT Bakrie Sumatera Plantation Tbk menjadi tumbal. Perseroan harus melepas kepemilikan aset enam kebun kelapa sawit miliknya seluas 30 ribu hektar.

Ke depan, juga beredar kabar bahwa perusahaan media VIVA grup akan dijual. Anak pengusaha Aburizal Bakrie , Ardiansyah Bakrie, menegaskan keluarga Bakrie tidak akan melepaskan begitu saja perusahaan media yang dimilikinya.

"Kami tidak akan menjual TvOne maupun ANTV dan Vivanews (VIVA). Kecuali kalau ada yang membeli harga selangit," katanya.

Presiden Direktur BNBR, Bobby Gofur Umar, mengungkapkan strategi penyelamatan perusahaan ialah dengan hanya berfokus pada sektor tertentu dan melepas sisanya. Sektor yang akan tetap dipertahankan ialah sumber daya alam (SDA) dan infrastruktur.

Adapun, jika memang harus melepas saham, maka perseroan tidak akan menjual keseluruhannya. Hal ini dinilai lebih menguntungkan dari pada harus kehilangan seluruhnya.

Masa-masa sulit ini justru diklaim perseroan sebagai tahap efektif dalam meningkatkan kinerja. Pasalnya, proses divestasi ini sebagai bagian rencana untuk alih teknologi dan penetrasi pasar ekspor di calon-calon negara pembeli saham.

"Calon-calon partnernya adalah pemain kelas dunia dari Korea, Jepang, China," jelas dia.


sumber | iniunic.blogspot.com | http://www.kaskus.co.id/thread/51dc0cf4572acf3523000002/abu-rizal-bakrie-bangkrut/